1. Hasad
Hasad atau dengki adalah perasaan tidak senang terhadap orang lain yang mendapatkan nikmat Allah. Orang yang memiliki sifat hasad selalu iri hati jika melihat orang lain hidup senang.
Hasad atau dengki adalah sifat tercela. Allah Swt. dan Rasul-Nya melarang kita berbuat hasad atau dengki.
Sabda Rasulullah saw.:
Artinya: “Janganlah kamu dengki mendengki, jangan putus-memutus hubungan persaudaraan, jangan benci membenci, jangan pula belakang membelakangi dan jadilah kamu semua hamba Allah seperti saudara, sebagai mana yang di perintahkan Allah kepadamu”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Hasad atau dengki adalah sifat iblis dan setan. Makhluk Allah yang pertama kali memiliki sifat hasad/dengki adalah iblis. Iblis dengki kepada Nabi Adam as. karena Nabi Adam di ciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang terhormat, Iblis iri hati melihat Malaikat bersujud menghormati Nabi Adam. Karena sifat dengji yang sudah melekat pada dirinya, iblis tidak mau menghormati Nabi Adam, walupun itu diperintahkan oleh Allah. Oleh sebab itu, Iblis dikutuk oleh Allah.
Orang yang memiliki sifat dengki merasa iri hati melihat orang lain hidup senang atau beruntung. Ia menginginkan keberuntungan itu oindah kepadanya, karena hatinya selalu kotor. Orang yang dengki itu akan sia-sia amal ibadahnya terhapus oleh sifat dengkinya.
Sabda Rasulullah saw.:
Artinya: “Jauhkanlah dirimu dari sifat dengki, karena dengki itu memakan semua kebaikan, sebagaimana api menghanguskan kayu bakar”. (HR. Abu Dawud).
Orang yang bersifat dengki hanya akan memperoleh celaan, kehinaan dan kesusahan bahkan para Malaikat melaknat orang yang memiliki sifat dengki.
Sifat hasad dan dengki dapat ditimbulkan oleh beberapa sebab:
a. Tidak bersyukur terhadap nikmat yang di berikan oleh Allah, merasa kurang dan tidak ouas terhadap nikmat yang dia terima.
b. Adanya perasaan tidak senang kepada orang lain.
c. Adanya perasaan tinggi hati, tidak senang jika ada orang yang melebihi/lebih baik darinya.
Menghilangkan rasa hasad:
a. Senantiasa bersyukur terhadap nikmat Allah Swt.
b. Berusaha menyenangkan orang lain.
c. Bersikap rendah hati.
2. Dendam
Dendam artinya keinginan untuk membalas. Allah Swt. sangat membenci orang yang pendenda, karena sifat pendendam sangat membahayakan dan merugikan orang lain.
Sabda Rasulullah saw.:
Yang Artinya: “Orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang paling pendendam”. (HR. Bukhori dan Muslim)
3. Ghibah
Ghibah artinya mengumpat atau menggunjing yaitu perbuatan atau tindakan yang membicarakan aib orang lain.
Allah berfirman dalam al-Quran surah al-Hujurat ayat 12:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَ لَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ ١٢
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak prasangka, sesungguhnya prasangkan itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?. Tentu kamu merasa jijik. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Alah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang”. (QS. Al-Hujurat:12)
Dalam hadits Rasulullah saw. bersabda yang artinya: “Ghibah ialah apabila engkau menyebutkan perihal saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukai olehnya”. (HR. Muslim)
Sebab-sebab timbulnya Ghibah
a. Ingin menghilangkan perasaan marah. Jik telah terlampiaskan marahnya ia merasa puas.
b. Kemegahan diri, seseorang yang ingi dikatakan hebat, dan mewah atau megah.
c. Menganggap orang lain lemah, rendah dan hina.
4. Fitnah
Fitnah artinya perkataan yang bermaksud menjelekkan orang seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang lain.
Firman Allah QS. al-Baqarah 217:
وَٱلۡفِتۡنَةُ أَكۡبَرُ مِنَ ٱلۡقَتۡلِ
Artinya: “Sedangkan fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan”.
Orang yang suka memfitnah biasanya orang yang pengecut, dia tidak senang melihat orang lain hidup senag atau bahagia, ia berupaya agar orang lain jatuh kedalam kebinasaan.
Sebab-sebab yang menimbulkan fitnah:
a. Berupa tekanan orang atau pihak lain.
b. Berupa hukuman.
c. Berupa pemberian Allah baik dan buruk.
d. Kalah dan menang, senang dan susah
e. Berupa anak dan harta.
Firman Allah dalam QS. al-Anfal ayat 28:
وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ ٢٨
Artinya: “Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan/fitnah dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar”. (QS. al-Anfal:28)
5. Namimah
a. Pengertian Namimah
Menurut bahasa namimah berasal dari bahasa Arab yang artinya adu domba. Adapun yang dimaksudkan dengan namimah menurut istilah adalah menyampaikan sesuatu yang tidak disenangi. Baik yang tidak senang itu orang yang diceritakan ataupun orang yang mendengarnya. Kata biasa menyebutnya dengan “adu domba”. Cara menyampaikan sesuatu itu biasanya dengan ucapan atau perkataan, tetapi adakalanya dengan tulisan, isyarat atau dengan sindiran.
Namimah pada hakekatnya adalah menyampaikan atau menceritakan rahasia orang lain sehingga merusak nama baik orang lain tersebut, tentu saja orang yang diceritakan itu meresa tidak senang dan dapat menimbulkan permusuhan.
Seringkali terjadi namimah dilakukan oleh orang yang sengaja ingin menimbulkan permusuhan antara seseorang dengan orang lain atau bahkan sifat seseorang yang ingin mencari popularitas diri sendiri diatas penderitaan orang lain. Misalnya Abduh dan Asmat adalah dua orang yang bersahabat. Fulan adalah orang yang banyak omong dan akhlaknya kurang baik. Melihat persahabatan Abduh dan Asmat sangat akrab, Fulan kemudian mencari-cari peluang untuk mengadu domba antara mereka. Dengan berbagai cara Fulanlakukan, sehingga persahabatannya bercerai berai bahkan terjadi perkelahian atau permusuhan antara Abduh dan Asmat.
b. Dalil yang berhubungan dengan Namimah
Namimah termasuk akhlak yang tercelayang dilarang dalam agama sesuai dengan firman Allah Swt. sebagai berikut:
وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافٖ مَّهِينٍ ١٠هَمَّازٖ مَّشَّآءِۢ بِنَمِيمٖ ١١
Artinya: “dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah”. (QS. al-Qalam:10-11)
وَيۡلٞ لِّكُلِّ هُمَزَةٖ لُّمَزَةٍ ١
Artinya: “kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela”. (QS. al-Humazah:1)
c. Penyebab timbulnya sifat Namimah
Perbuatan namimah atau adu domba di sebabkan antara lain:
1) Ada perasaan tidak senang terhadap orang yang diceritakan.
2) Adanya sifat dengki pada diri seseorang yang menyebabkan ketidak senangan kepada orang lain yang mendapatkan kebahagiaan maupun kesuksesan.
3) Mencari muka agar orang lain bersimpati kepada dirinya.
4) Gemar berbicara berlebihan, omong kosong atau berbicara tentang hal-hal yang tidak benar.
Ada beberapa cara untuk menghindari sifat namimah antara lain:
1) Apabila melihat atau mendengar sesuatu yang disampaikan orang lain itu akan menimbulkan keburukan sebaiknya didiamkan saja.
2) Jangan melayani omongan orang yang suka berkata bohong.
3) Apabila ada berita yang meragukan dari seseorang, agar diselidiki dulu kebenarannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar