Senin, 29 April 2019

VIDEO PPT HUSNUZAN, TAWADHU, TASAMUH DAN TAÁWUN

VIDEO MUKJIZAT RASUL

VIDEO IMAN KEPADA RASUL ALLAH SWT

VIDEO KISAH KETABAHAN NABI AYYUB A.S

VIDEO KISAH KETELADANAN NABI YUNUS A.S

FILM PENDEK ADAB KEPADA ORANGTUA DAN GURU

PPT ANANIYAH, PUTUS ASA, GHADAB DAN TAMAK

FILM PENDEK SIKAP TAWAKKAL, IKHTIAR, SABAR, SYUKUR, DAN QANAÁH

BAB XI "Meneladani Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu"

Meneladani Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu 

Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling utama bahkan ia adalah manusia paling mulia setelah para nabi dan rasul. Abu Bakar memeluk Islam tatkala orang-orang masih mengingkari Nabi.
Ammar bin Yasir radhiallahu ‘anhu mengatakan, “(Di awal Islam) Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya bersama lima orang budak, dua orang wanita, dan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhum ‘ajmain.” (Riwayat Bukhari).
Sebagaimana telah masyhur, laqob ash-shiddiq disematkan padanya karena ia selalu membenarkan apa yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana pada pagi hari setelah kejadian isra mi’raj orang-orang kafir berkata kepadanya, “Temanmu (Muhammad) mengaku-ngaku telah pergi ke Baitul Maqdis dalam semalam”. Abu Bakar menjawab, “Jika ia berkata demikian, maka itu benar”.
Keutamaan Abu Bakar
Pertama, dijamin masuk surga dan memasuki semua pintu yang ada di sana, padahal saat itu beliau masih menjejakkan kaki di muka bumi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah, mereka yang berpuasa akan dipanggila dari pintu puasa, yaitu pintu Rayyan. Lantas Abu Bakar bertanya; “Jika seseorang (yang masuk surga) dipanggil dari salah satu pintu, itu adalah sebuah kepastian. Apakah mungkin ada orang akan dipanggil dari semua pintu tersebut wahai Rasulullah?”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Benar, dan aku berharap kamu termasuk diantara mereka, wahai Abu Bakar.” (HR. al-Bukhari & Muslim).
Kedua, Abu Bakar adalah laki-laki yang paling dicintai oleh Rasulu shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Amr bin Al Ash radhiallahu’anhu bertanya kepada Nabi shallallahu’alahi wa sallam, “Siapa orang yang kau cintai?. Rasulullah menjawab: ‘Aisyah’. Aku bertanya lagi: ‘Kalau laki-laki?’. Beliau menjawab: ‘Ayahnya Aisyah’ (yaitu Abu Bakar)” (HR. Muslim).
Ketiga, Allah mempersaksikan bahwa Abu Bakar adalah orang yang ikhlas dalam mengamalkan ajaran Islam. Allah Ta’ala berfirman,
وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى. الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّىٰ. وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَىٰ. إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَىٰ. وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ
“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan” (QS. Al Lail: 17-21)
Para ulama, di antaranya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di ketika menafsirkan ayat ini beliau berkata, sebab turun ayat ini adalah berkaitan dengan Abu Bakar ash-Shiddiq (Tafsir as-Sa’di, Hal: 886).
Keempat, orang-orang musyrik menyifati Abu Bakar sebagaimana Khadijah menyifati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Bakar adalah salah seorang sahabat yang diperintahkan Rasulullah untuk berhijrah ke negeri Habasyah. Meskipun Abu Bakar lebih senang berada di sisi Rasulullah, namun Rasulullah mengkhawatirkan keselematan Abu Bakar karena kabilahnya termasuk kabilah yang lemah, tidak mampu melindunginya dari ancaman orang-orang kafir Quraisy.
Dalam perjalanan menuju Habasyah, saat sampai di suatu wilayah yang bernama Barku al-Ghumad, Abu Bakar berjumpa dengan seseorang yang dikenal dengan Ibnu Dughnah yang kemudian menanyakan perihal tentangnya. Lalu Ibnu Dughnah mengajaka Abu Bakar kembali ke Mekah dan ia berkata kepada kafir Quraisy, “Apakah kalian mengusir orang yang suka menghilangkan beban orang-orang miskin, menyambung silaturahim, menanggung orang-orang yang lemah, menjamu tamu, dan selalu menolong di jalan kebenaran?” (Riwayat Bukhari)
Sifat yang sama seperti sifat yang dikatakan Ummul Mukminin Khadijah tatkala menenangkan Rasulullah tatkala pertama kali menerima wahyu.
Oleh karena itu, tidak heran sampai-sampai Umar bin al-Khattab menyifati keimanan Abu Bakar dengan permisalan yang sangat luar biasa. Umar mengatakan, “Seandainya ditimbang iman Abu Bakar dengan iman seluruh penduduk bumi, niscaya lebih berat iman Abu Bakar.” (as-Sunnah, Jilid 1 hal. 378).
Meneladani Abu Bakar
Pertama, meneladani kecintaannya kepada Rasulullah.
Diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha, ia menceritakan, setiap harinya Rasulullah selalu datang ke rumah Abu Bakar di waktu pagi atau di sore hari. namun pada hari dimana Rasulullah diizinkan untuk berhijrah, beliau datang tidak pada waktu biasanya. Abu Bakar yang melihat kedatangan Rasulullah berkata, “Tidaklah Rasulullah datang di waktu (luar kebiasaan) seperti ini, pasti karena ada urusan yang sangat penting”. Saat tiba di rumah Abu Bakar, Rasulullah bersabda, “Aku telah diizinkan untuk berhijrah”. Kemudian Abu Bakar menanggapi, “Apakah Anda ingin agar aku menemanimu wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Iya, temani aku”. Abu Bakar pun menangis.
Kemudian Aisyah mengatakan, “Demi Allah! Sebelum hari ini, aku tidak pernah sekalipun melihat seseorang menagis karena berbahagia. Aku melihat Abu Bakar menangis pada hari itu”.
Abu Bakar kemudian berkata, “Wahai Nabi Allah, ini adalah kedua kudaku yang telah aku persiapkan untuk hari ini”. Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
Subhanallah! Abu Bakar menangis bahagia karena bisa hijrah bersama Rasulullah. Padahal hijrah dari Mekah ke Madinah kala itu benar-benar membuat nyawa terancam, meninggalkan harta, meninggalkan keluarga; anak dan istri yang ia cintai, tapi cinta Abu Bakar kepada Rasulullah membuatnya lebih mengutamakan Rasulullah daripada harta, anak, istri, bahkan dirinya sendiri.
Kedua, menangis saat membaca Alquran.
Abu Bakar adalah seorang laki-laki yang amat lembut hatinya sehingga tatkala membaca Alquran, matanya senantiasa berurai air mata. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit menjelang wafatnya, beliau memerintahkan Abu Bakar agar mengimami kaum muslimin. Lalu Aisyah mengomentari hal itu, “Sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang yang sangat lembut, apabila ia membaca Alquran, ia tak mampu menahan tangisnya”. Aisyah khawatir kalau hal itu mengganggu para jamaah. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerintahkan agar Abu Bakar mengimami kaum muslimin.
Karena bacaan Alqurannya pula, orang-orang kafir Quraisy mengeluh kepada Ibnu Dhughnah –orang yang menjamin Abu Bakar- agar ia meminta Abu Bakar membaca Alquran di dalam rumahnya saja, tidak di halaman rumah, apalagi di tempat-tempat umum. Mereka khawatir istri-istri dan anak-anak mereka terpengaruh dengan lantunan ayat suci yang dibaca oleh Abu Bakar.
Ketiga, berhati-hati terhadap harta yang haram atau syubhat.
Dikisahkan pula dari Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata:
“Abu Bakar ash-Shiddiq memiliki budak laki-laki yang senantiasa mengeluarkan kharraj (setoran untuk majikan) padanya. Abu Bakar biasa makan dari kharraj itu. Pada suatu hari ia datang dengan sesuatu, yang akhirnya Abu Bakar makan darinya. Tiba-tiba sang budak berkata, ‘Apakah Anda tahu dari mana makanan ini?’. Abu Bakar bertanya, ‘Dari mana?’ Ia menjawab, ‘Dulu pada masa jahiliyah aku pernah menjadi dukun yang menyembuhkan orang. Padahal bukannya aku pandai berdukun, namun aku hanya menipunya. Lalu si pasien itu menemuiku dan memberi imbalan buatku. Yang Anda makan saat ini adalah hasil dari upah itu. Akhirnya Abu Bakar memasukkan tangannya ke dalam mulutnya hingga keluarlah semua yang ia makan.” (HR. Bukhari).
Kami tutup tulisan ini dengan sebuah hadits dari Anas bin Malik. Ada seseorang yang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain, Anas mengatakan, “Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”Anas pun mengatakan, “Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.” (HR. Bukhari).


Read more https://kisahmuslim.com/4515-meneladani-abu-bakar-ash-shiddiq-radhiallahu-anhu.html

BAB X "Adab bergaul dengan Saudara dan Teman"

Adab bergaul dengan Saudara dan Teman
ٱلۡأَخِلَّآءُ يَوۡمَئِذِۢ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلۡمُتَّقِينَ ٦٧
Artinya : “Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertaqwa”. (QS Azzukhruf:67)

Allah Swt memerintahkan kepada kita hendaknya pandai-pandai memilih teman bergaul dalam kehidupan di dunia  di mana hidup tak terulang dan hanya sekali, karena pengaruh baik dan buruk tergantung dari teman-teman dan sahabatnya, bahkan tidak jarang kita terbawa dan terpengaruh oleh kebiasaan baik maupun kebiasaan buruk menyeret kita ke  Neraka, Lihat Sabda Rasulullah.

Artinya: Dari Abu Hurairah bahwa Nabi Saw bersabda: “Seseorang itu (sangat) tergantung dengan agama temannya, maka hendaklah seseorang (diantaramu) melihat siapa yang menjadi temannya”.
Dari pembukaan diatas maka adab atau etika bergaul yang benar-benar harus kita perhatikan adalah sebagai berikut :
1.      Memilih teman bergaul dan bersahabat harus dengan orang yang baik akhlaknya
2.      Hal ini mempertegas pernyataan Rasulullah Saw, bahwa kita harus pandai memilih dan memilah teman bergaul untuk kepentingan dunia dan akhirat kita, terkadang adat istiadat, budaya dan perilaku seseorang itu saling mempengaruhi. Abu Said al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw, bersabda: “Janganlah kalian berkawin kecuali dengan seseoran mukmin, dan jangan sampai memakan makananmu kecuali orang yang bertaqwa.”
Larangan pertemanan ini mencakup larangan bersahabat dengan pelaku dosa besar dan orang yang suka berbuat dosa, karena mereka melakukan apa yang Allah haramkan. Kepada Allah saja dia berani maksiat dan melawan apalagikepada makhluk. Kepada Allah saja yang memberikan segala kebaikan dan kenikmatan dia ingkar apalagi kepada manusia, kepada Allah saja tidak amanah apalagi kepada teman-temannya. Berteman dengan mereka akan mendatangkan kemadharatan pada agama kita. Terlebih lagi larangan bersahabat dengan orang-orang kafir dan munafik, maka larangan ini lebih diutamakan. Kita bergaul dengan mereka dalam rangka amal ma’ruf nahi munkar itu hal yang diperbolehkan, dan amal ma’ruf serta nahi munkar kita jika mendatangkan kemaslahatan maka lanjutkan, akan tetapi jika tak mendatangkan perubahan apapun pada mereka, meninggalkannya adalah lebih baik lagi. Adapun sabda Rasulullah saw.
Artinya: “Jangan sampai memakan makananmu kecuali orang yang bertaqwa.”
Al Khatabi berkata, “Larangan ini berlaku pada makanan undangan, bukan makanan kebutuhan, karena Allah berfirman:
وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا ٨
Artinya: “Dan mereka memberi makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (QS. Al insaan:8)
Dari firman tersebut membantu manusia yang tertawan oleh kita dari segi makanan pokoknya dan kebutuhan hidup sehari-harinya adalah wajib, tetangga non muslim yang kekurangan bahan pokok demi kemanusiaan harus kita bantu, bahkan harus menunjukkan bahwa kita ini berdakwah ikhlas kepada sesame makhluk dan mencotoh Rasulullah Saw. Sebagai rahmatan lil ‘alamiin.
Adapun hadist yang lain mempertegas lagi adalah sebagai berikut:
Artinya: Rasulullah Saw bersabda, “Perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk bagaikan penjual mimyak wangi dengan pandai besi, bisa jadi penjual minyak wangi itu akan menghadirkan kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu akan mendapatkan bau wanginya, sedangkan pandai besi hanya akan membakar bajumu atau akan mendapatkan bau tidak sedapnya.”
Jelaslah kehati-hatian kita memilih sebuah komunitas pergaulan sangat diperlukan bukan hanya mengatakan saya fleksibel bergaul dengan siapa saja, tetapi berlaku cerdaslah untuk kepentingan diri kita sendiri agar dunia dan akhirat berhasil
Bahkan factor memilih pasangan pun sangat tergantung dari teman yang menjadi teman pergaulannya, karena biasanya sifat mereka tak jauh berbeda dengan teman-temannya.
Artinnya: “Jauhilah olehmu si cantik yang beracun!” Lalu seorang sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah si cantik yang beracun itu?” Rasulullah saw. Menjawab: “Perempuan yang cantik, tetapi hidup dan bergaul dengan temannya dalam lingkungan yang jahat.” (H.R. Daruqutni)
Dari hadist tersebut bisa kita simpulkan bahwa lingkungan yang tidak baik, besar kemungkinan dipenuhi oleh kebiasaan, tradisi, dan perilaku yang bertentangan dengan syariat islam. Lingkungan masyarakat yang mempunyai tradisi berjadi, membuka praktik pelacuran, gemar minuman keras, dan melakukan maksiat-maksiat lainnya, merupakan contoh lingkungan yang tidak baik.

Minggu, 28 April 2019

BAB IX "Hasad, Dendam, Ghibah, Fitnah dan Namimah"

1.      Hasad
Hasad atau dengki adalah perasaan tidak senang terhadap orang lain yang mendapatkan nikmat Allah. Orang yang memiliki sifat hasad selalu iri hati jika melihat orang lain hidup senang.
Hasad atau dengki adalah sifat tercela. Allah Swt. dan Rasul-Nya melarang kita berbuat hasad atau dengki.

Sabda Rasulullah saw.:

Artinya: “Janganlah kamu dengki mendengki, jangan putus-memutus hubungan persaudaraan, jangan benci membenci, jangan pula belakang membelakangi dan jadilah kamu semua hamba Allah seperti saudara, sebagai mana yang di perintahkan Allah kepadamu”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hasad atau dengki adalah sifat iblis dan setan. Makhluk Allah yang pertama kali memiliki sifat hasad/dengki adalah iblis. Iblis dengki kepada Nabi Adam as. karena Nabi Adam di ciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang terhormat, Iblis iri hati melihat Malaikat bersujud menghormati Nabi Adam. Karena sifat dengji yang sudah melekat pada dirinya, iblis tidak mau menghormati Nabi Adam, walupun itu diperintahkan oleh Allah. Oleh sebab itu, Iblis dikutuk oleh Allah.
Orang yang memiliki sifat dengki merasa iri hati melihat orang lain hidup senang atau beruntung. Ia menginginkan keberuntungan itu oindah kepadanya, karena hatinya selalu kotor. Orang yang dengki itu akan sia-sia amal ibadahnya terhapus oleh sifat dengkinya.

Sabda Rasulullah saw.:

Artinya: “Jauhkanlah dirimu dari sifat dengki, karena dengki itu memakan semua kebaikan, sebagaimana api menghanguskan kayu bakar”. (HR. Abu Dawud).

Orang yang bersifat dengki hanya akan memperoleh celaan, kehinaan dan kesusahan bahkan para Malaikat melaknat orang yang memiliki sifat dengki.
Sifat hasad dan dengki dapat ditimbulkan oleh beberapa sebab:
a.       Tidak bersyukur terhadap nikmat yang di berikan oleh Allah, merasa kurang dan tidak ouas terhadap nikmat yang dia terima.
b.      Adanya perasaan tidak senang kepada orang lain.
c.       Adanya perasaan tinggi hati, tidak senang jika ada orang yang melebihi/lebih baik darinya.
Menghilangkan rasa hasad:
a.       Senantiasa bersyukur terhadap nikmat Allah Swt.
b.      Berusaha menyenangkan orang lain.
c.       Bersikap rendah hati.

2.      Dendam
Dendam artinya keinginan untuk membalas. Allah Swt. sangat membenci orang yang pendenda, karena sifat pendendam sangat membahayakan dan merugikan orang lain.


Sabda Rasulullah saw.:

Yang Artinya: “Orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang paling pendendam”. (HR. Bukhori dan Muslim)

3.      Ghibah
Ghibah artinya mengumpat atau menggunjing yaitu perbuatan atau tindakan yang membicarakan aib orang lain.
Allah berfirman dalam al-Quran surah al-Hujurat ayat 12:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَ لَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ ١٢
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak prasangka, sesungguhnya prasangkan itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?. Tentu kamu merasa jijik. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Alah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang”. (QS. Al-Hujurat:12)

Dalam hadits Rasulullah saw. bersabda yang artinya: “Ghibah ialah apabila engkau menyebutkan perihal saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukai olehnya”. (HR. Muslim)

Sebab-sebab timbulnya Ghibah
a.       Ingin menghilangkan perasaan marah. Jik telah terlampiaskan marahnya ia merasa puas.
b.      Kemegahan diri, seseorang yang ingi dikatakan hebat, dan mewah atau megah.
c.       Menganggap orang lain lemah, rendah dan hina.

4.      Fitnah
Fitnah artinya perkataan yang bermaksud menjelekkan orang seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang lain.
Firman Allah QS. al-Baqarah 217:
وَٱلۡفِتۡنَةُ أَكۡبَرُ مِنَ ٱلۡقَتۡلِ
Artinya: “Sedangkan fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan”.

Orang yang suka memfitnah biasanya orang yang pengecut, dia tidak senang melihat orang lain hidup senag atau bahagia, ia berupaya agar orang lain jatuh kedalam kebinasaan.

Sebab-sebab yang menimbulkan fitnah:
a.       Berupa tekanan orang atau pihak lain.
b.      Berupa hukuman.
c.       Berupa pemberian Allah baik dan buruk.
d.      Kalah dan menang, senang dan susah
e.       Berupa anak dan harta.

Firman Allah dalam QS. al-Anfal ayat 28:
وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ ٢٨
Artinya: “Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan/fitnah dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar”. (QS. al-Anfal:28)



5.      Namimah
a.      Pengertian Namimah
Menurut bahasa namimah berasal dari bahasa Arab yang artinya adu domba. Adapun yang dimaksudkan dengan namimah menurut istilah adalah menyampaikan sesuatu yang tidak disenangi. Baik yang tidak senang itu orang yang diceritakan ataupun orang yang mendengarnya. Kata biasa menyebutnya dengan “adu domba”. Cara menyampaikan sesuatu itu biasanya dengan ucapan atau perkataan, tetapi adakalanya dengan tulisan, isyarat atau dengan sindiran.
Namimah pada hakekatnya adalah menyampaikan atau menceritakan rahasia orang lain sehingga merusak nama baik orang lain tersebut, tentu saja orang yang diceritakan itu meresa tidak senang dan dapat menimbulkan permusuhan.
Seringkali terjadi namimah dilakukan oleh orang yang sengaja ingin menimbulkan permusuhan antara seseorang dengan orang lain atau bahkan sifat seseorang yang ingin mencari popularitas diri sendiri diatas penderitaan orang lain. Misalnya Abduh dan Asmat adalah dua orang yang bersahabat. Fulan adalah orang yang banyak omong dan akhlaknya kurang baik. Melihat persahabatan Abduh dan Asmat sangat akrab, Fulan kemudian mencari-cari peluang untuk mengadu domba antara mereka. Dengan berbagai cara Fulanlakukan, sehingga persahabatannya bercerai berai bahkan terjadi perkelahian atau permusuhan antara Abduh dan Asmat.

b.      Dalil yang berhubungan dengan Namimah
Namimah termasuk akhlak yang tercelayang dilarang dalam agama sesuai dengan firman Allah Swt. sebagai berikut:
وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافٖ مَّهِينٍ ١٠هَمَّازٖ مَّشَّآءِۢ بِنَمِيمٖ ١١
Artinya: “dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah”. (QS. al-Qalam:10-11)



وَيۡلٞ لِّكُلِّ هُمَزَةٖ لُّمَزَةٍ ١
Artinya: “kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela”. (QS. al-Humazah:1)

c.       Penyebab timbulnya sifat Namimah
Perbuatan namimah atau adu domba di sebabkan antara lain:
1)      Ada perasaan tidak senang terhadap orang yang diceritakan.
2)      Adanya sifat dengki pada diri seseorang yang menyebabkan ketidak senangan kepada orang lain yang mendapatkan kebahagiaan maupun kesuksesan.
3)      Mencari muka agar orang lain bersimpati kepada dirinya.
4)      Gemar berbicara berlebihan, omong kosong atau berbicara tentang hal-hal yang tidak benar.
Ada  beberapa cara untuk menghindari sifat namimah antara lain:
1)      Apabila melihat atau mendengar sesuatu yang disampaikan orang lain itu akan menimbulkan keburukan sebaiknya didiamkan saja.
2)      Jangan melayani omongan orang yang suka berkata bohong.
3)      Apabila ada berita yang meragukan dari seseorang, agar diselidiki dulu kebenarannya.

BAB VIII "Husnuzan, Tawaduk, Tasamuh, Taawun"

Husnuzan, Tawaduk, Tasamuh, Taawun


1.Husnuzan
~Pengertian husnuzan
Kata husnuzan berasal dari kata husnul(baik) dan zan(prasangka).Husnuzan berarti prasangka,perkiraan,dugaan baik terhadap orang lain.  Lawan kata husnuzan adalah suuzan yaitu, berprasangka buruk terhadap orang lain.

~Hukum husnuzan
          Hukum husnuzan terhadap Allah SWT dan rasul-Nya adalah Wajib. Sehingga setiap kaum muslimin dan muslimat Wajib memiliki husnuzan terhadap Allah SWT dan rasul-Nya. Dan hukum husnuzan sesama manusia  adalah mubah atau jaiz(boleh dilakukan). Husnuzan sesama manusia berati menaruh kepercayaan bahwa dia telah berbuat suatu kebaikan.
Dan kita juga harus behati-hati dalam berprasangka. Karena kita dapat berprasangka buruk terhadap orang lain(Suuzan)

~Bentuk-Bentuk Husnuzan
          1.Meyakini dengan sepenuh hati perintah agama
          2.Meyakini bahwa semua larangan agama demi kebaikan manusia
          3.Mengembangkan sikap baik dalam kehidupan bermasyarakat
          4.Memberi kepercayaan kepada sesama manusia
          5.Menjauhi prasangka burukterhadap siapapun
2.Tawaduk
~Pengertian Tawaduk
          Tawaduk berarti rendah hati. Orang yang tawaduk adalah orang yang merendahkan diri dalam pergaulan, tidak menampakkan kemampuan yang dimiliki. Lawan dari  kata tawaduk adalah takabur, takabur berarti sombong atau membanggakan diri. Orang yang takabur adalah orang yang menginginkan agar dirinya dihormati.
~Perintah Tawaduk
          Perintah bertawaduk sangat penting dalam pergaulan sesama manusia.
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
 Q.S. al-Isra ayat 24 mewajibkan kita bersikap tawaduk kepada kedua orang tua atas dasar kasih saying. Setipa muslim hendaknya berusaha untuk selalu bersikap tawaduk kepada siapapun.

~Bentuk-Bentuk Tawaduk
          1.Menghormati orang yang lebih tua
          2.Sayang kepada yang lebih muda
          3.Menghargai pendapat orang lain
          4.Bersedia mengalah demi kepentingan umum
          5.Santun berbicara kepada siapapun
          6.tidak suka disanjung orang lain atas kebaikannya



3.Tasamuh
~Pengertian Tasamuh
          Tasamuh berarti sikap tenggang rasa, saling menghormati, saling menghargai sesama manusia. Tasamuh sering disebut juga toleran.
~Pentingnya Tasamuh
          Pentingnya sikap tasamuh dalam kehidupan bermasyarakat, perasaan harus mendapatkan perhatian oleh masing-masing anggota masyarakat.



~Perintah Tasamuh
          Islam memerintahkan umatnya untuk bersikap tasamuh,antara sebagai berikut          

          Maksud dari ayat diatas adalah bahwa masin-masing pihak bebas melaksanakan ajaran agam yang diyakini.sehingga tidak boleh memperolok-olokkan agama yang dianut orang lain.
~Bentuk-Bentuk Tasamuh
          1.Tidak menggangu ketenangan tetangga
          2.Tidak melarang tetangga yang menanam pohon di batas kebun
          3.Menyukai sesuatu untuk tetangganya



4.Taawun
~Pengertian Taawun
          Tasamuh berasal dari kata taawunan-yataawanu-taawana yang berarti tolong-menolong, gotong royong, bantu-membantu dengan sesama manusia.   


~Pentingnya Taawun
          Manusia adalah makhluk lemah,yang tidak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa bantuan pihak lain. Agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya manusia perlu mengadakan kerja sama, tolong-menolong, dan bantu-membantu dalam berbagai hal.
~Perintah Taawun
          Islam membimbing agar umatnya mau bekerja sama, tolong-menolong dengan sesamanya ats dasar kekeluargaan, antara lain sebagai berikut
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Menurut Q.S. Al-Maidah ayat 2 ,tidak setiap bentuk tolong-menolong itu baik,melainkan ada juga yang tidak baik. Tolong-menolong bebas dilakukan oleh siapanun.

~Bentuk-Bentuk Taawun
          1.Meringankan beban hidup,menutup aib, dan memberi bantuan
    Kepada orang lain

2.Mengunjungi orang sakit  

Senin, 22 April 2019

BAB VII "Pengertian Mukjizat dan Kejadian Luar Biasa Lainnya (Karamah, Ma’unah, dan Irhas)"

   Pengertian  Mukjizat dan Kejadian Luar Biasa Lainnya (Karamah, Ma’unah, dan Irhas)
1.      Mukjizat
Mukjizat berasal dari bahasa Arab معجزة yang artinya melemahkan, yaitu membuat sesuatu menjadi tidak mampu. Mukjizat merupakan sesuatu yang luar biasa sehingga manusia tidak mampu mendatangkan hal yang serupa. Menurut istilah, mu’jizat berarti sesuatu yang luar biasa yang terjadi dalam diri nabi atau rasul Allah SWT. Mukjizat bertujuan untuk membuktikan kenabian atau kerasulan seorang nabi atau rasul Allah SWT yang tidak dapat ditiru oleh siapa pun dan untuk melemahkan segala macam usaha dan alasan orang kafir dan menentang islam, dan menyeru kepada umat agar percaya akan keesaan Allah.
Unsur yang harus ada dalam mukjizat, antara lain:
1)      Kejadian luar biasa
2)      Tampak pada diri seorang nabi
3)      Ada tantangan dari kaum yang menyangsikan kedudukan seorang nabi
4)      Manusia tidak mampu menandingi hal yang luar biasa tersebut.
Lazimnya, nabi atau rasul menampakkan mukjizatnya hanya pada saat-saat yang sangat dibutuhkan, misalnya untuk membela diri atau menjawab tantangan orang- orang kafir.
Dalam al-Qur’an, mukjizat biasanya disebutkan dengan kata-kata ayat atau burhan,yang berarti bukti atau keterangan yang jelas.
Allah SWT berfirman dalam Q.S. Asy-Su’ara’: 4
إِنْ نَشَأْ نُنَزِّلْ عَلَيْهِمْ مِنَ السَّمَاءِ آيَةً فَظَلَّتْ أَعْنَاقُهُمْ لَهَا خَاضِعِينَ
“Jika kami kehendaki niscaya Kami menurunkan kepada mereka mukjizat dari langit, maka senantiasa kuduk-kuduk mereka tunduk kepadanya.”
Setiap muslim wajib memercayai mukjizat yang dimiliki nabi dan rasul. Mengingkari mukjizat nabi dan rasul berarti mengingkari ayat-ayat yang ada dalam al-Qur’an itu sendiri. Jadi, orang yang mengingkari mukjizat nabi dan rasul termasuk orang kafir.
Contoh Mukjizat yang Diberikan Kepada Rasul Allah
Mukjizat yang diberikan oleh Allah antara lain sebagai berikut:
1)        Nabi Ibrahim a.s
Mukjizat Nabi Ibrahim a.s. adalah tidak hangus ketika dibakar oleh Raja Namrud. Jika orang biasa dibakar dalam kobaran api dalam suhu 1700 C, tentu hangus terbakar dalam sekejap. Namun Nabi Ibrahim a.s. tidak terbakar sedikit pun, bahkan api terasa dingin oleh beliau. Allah berfirman dalam Q.S. al-Anbiya’:69.
قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ
Kami berfirman, “Hai api, jadikanlah dingin dan menjadi keselamatan bagi Ibrahim.”
2)        Nabi Musa a.s
Nabi Musa a.s merupakan nabi yang diutus untuk menyeru Bani Israil agar beriman kepada Allah. Dakwahnya ditentang oleh seorang raja yang kejam dan durhaka kepada Allah yang bernama Fir’aun. Raja Fir’aun mengumpulkan para tukang sihir untuk mengalahkan Nabi Musa a.s. Para tukang sihir tersebut melemparkan tongkat-tongkat yang ada di tangan mereka dan menjelma menjadi ular-ular yang siap menyerang Nabi Musa a.s.
Allah memerintahkan Nabi Musa a.s. melemparkan tongkat yang biasanya digunakan untuk menggembala kambingnya. Tongkat itu berubah menjadi ular besar dan menelan habis semua ular para tukang sihir tersebut. Kisah ini termaktub dalam al-Qur’an Surah Toha ayat 19-21.
3)        Nabi Muhammad saw.
Mukjizat Nabi Muhammad saw. adalah sebagai berikut.
a)      Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar.
b)      Celah-celah jari beliau dapat memancarkan air yang diminum para sahabatnya.
c)      Mi’raj ke Sidratul Muntaha dalam waktu yang singkat.
4)        Nabi saleh a.s
Nabi Saleh dapat mengeluarkan unta besar dari lubang batu yang sangat kecil.
5)        Nabi Sulaiman a.s.
Kisah kehebatan Nabi Sulaiman a.s. dapat kita baca dalam surah Saba’ dan surah An-Nahl. Ia seorang nabi yang dapat berbicara dengan semua jenis binatang, termasuk dengan bangsa jin, contohnya Ifrid. Ia juga dapat mengendalikan angin. Ia juga seorang raja bagi manusia dan hewan dan berhasil mengislamkan ratu Bulqis yang sebelumnya menyembah berhala.
6)        Nabi Isa a.s.
Mukjizat Nabi Isa a.s. adalah sebagai berikut.
a)      Membuat burung dari tanah dan benar-benar hidup atas izin Allah.
b)      Menyembuhkan orang yang buta sehingga dapat melihat lagi.
c)      Menyembuhkan orang yang sakit lepra.
d)     Menghidupkan orang yang sudah meninggal dengan izin Allah.
2.      Karamah
Karamah berasal dari bahasa arab كرم berarti kemuliaan, keluhuran, dan anugerah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengistilahkan karomah dengan keramat diartikan suci dan dapat mengadakan sesuatu diluar kemampuan manusia biasa karena ketaqwaanya kepada Tuhan.
Menurut ulama sufi, karamah berarti keadaan luar biasa yang diberikan Allah SWT kepada para wali-Nya. Wali ialah orang yang beriman, bertakwa, dan beramal shaleh kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam Q.S. Yunus: 62-64,
أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ۞ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ۞ لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ……
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat….”
Ulama’ sufi meyakini bahwa para wali mempunyai keistimewaan, misalnya kemampuan melihat hal-hal ghaib yang tidak dimiliki oleh manusia umumnya. Allah SWT dapat memberi karamah kepada orang beriman, takwa, dan beramal shaleh menurut kehendaknya.
1)      Kejadian yang Dialami Seorang Ahli Ilmu pada masa Nabi Sulaiman a.s.
Ketika Nabi Sulaiman a.s. sedang duduk di hadapan dengan para tentaranya yang terdiri atas manusia, hewan, dan jin, beliau meminta kepada mereka mendatangkan singgasana Ratu Bulqis. Ada seorang yang berilmu berkata kepada Nabi Sulaiman a.s. menurut sebuah keterangan, orang yang berilmu itu bernama Asif. Perkataan orang berilmu tersebut diabadikan Allah SWT dalam firman-Nya Q.S. an-Naml: 40,
قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ    
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia".
2)      Kejadian yang Dialami Maryam binti Imran
Nabi Zakaria a.s. menemukan makanan setiap hadir di mihrab Maryam binti Imran.
                               Allah berfirman dalam Q.S. Ali Imran: 37,
فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
 “Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.”
Peristiwa yang disaksikan Nabi Zakaria a.s. merupakan karamah yang dianugerahkan Allah SWT kepada maryam binti Imran.
Allah SWT mentakdirkan bahwa pengasuh Maryam adalah pamannya sendiri, yakni Nabi Zakaria a.s.
3.      Ma’unah
Ma’unah berarti pertolongan. Ma’unah adalah pertolongan yang diberikan oleh Allah SWT kepada orang mukmin untuk mengatasi kesulitan yang menurut akal sehat melebihi kemampuannya. Ma’unah terjadi pada orang yang biasa berkat pertolongan Allah. Misalnya, orang yang terjebak dalam kobaran api yang sangat hebat, namun berkat ma’unah/pertolongan Allah, ia selamat.
4.      Irhas
Irhas adalah kejadian luar biasa atau hal-hal yang istimewa pada diri calon nabi atau Rasul ketika masih kecil. Contohnya, Muhammad saw. Selalu dinaungi awan sehingga kepanasan saat melakukan perjalanan dagang ke negeri Syam. Peristiwa yang terjadi pada diri Nabi Isa a.s. ketika beliau masih bayi dalam buaian ibunya, Maryam. Pada saat masih bayi, Nabi isa dapat berbicara kepada orang-orang yang melecehkan ibunya.
Pembicaraan Nabi Isa a.s. ketika masih bayi itu disebutkan dalam firman Allah, Q.S. Maryam: 29-33.
فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا۞ قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا۞ وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا۞ وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا۞ وَالسَّلامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا۞
“Maka dia (Maryam) menunjuk kepada anaknya, mereka berkata “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku kitab Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada dan Dia memerintahkan kepadaku melaksanakan shalat dan menunaikan zakat selama hidup, dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”
·        Macam-macam Mukjizat
Menurut sifatnya, mukjizat dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu mukjizat hisyiah/kauniyah dan mukjizat maknawiyah/aqliyah.
1)        Mukjizat hisyiah/kauniyah ialah mukjizat yang dapat dilihat, didengar, dirasakan, dan dipegang. Mukjizat hisyiah ditujukan kepada orang biasa, yang kurang mampu menggunakan akal pikirannya secara baik. Contohnya, mukjizat Nabi Nuh a.s. beliau membuat perahu untuk menghadapi banjir yang pada waktu itu tidak pernah dilakukan orang dan mustahil dapat dilakukan oleh orang biasa. Setelah perahu selesai dibuat, banjir datang dan sumber airnya datang dari tiap-tiap rumah penduduk yang kafir. Akhirnya, semua penduduk kafir tenggelam sedangkan Nabi Nuh a.s. dan para pengikutnya selamat.
2)        Mukjizat maknawiyah ialah mukjizat yang tidak dapat dilihat, didengar, dirasakan, dicium, dan dipegang. Mukjizat maknawiyah hanya dapat dimengerti dan dikenal oleh orang-orang yang berpikir sehat, berbudi luhur, dan berperasaan halus. Contohnya mukjizat yang dimiliki Nabi Muhammad saw. berupa al-Qur’an. Tidak semua orang mau menerima petunjuk al-Qur’an. Hanya orang yang sehat, berbudi luhur, dan berperasaan halus yang sanggup menerima al-Qur’an dengan senang hati. Al-Qur’an memiliki keistimewaan yang luar biasa, salah satunya adalah dalam hal balaghah (sastra). Tidak ada seorang pun yang mampu menyusun atau merangkai kata-kata sebagaimana al-Qur’an meskipun hanya satu ayat
·        Perbedaan antara Mukjizat, Karamah, Ma’unah, dan Irhas
            Pada dasarnya mukjizat, karamah, ma’unah, dan irhas adalah sama, yaitu anugerah Allah SWT yang diberikan kepada hamba-Nya. Perbedaannya terletak pada siapa yang menerimanya.
      Perbedaan antara mukjizat, karamah, ma’unah, dan irhas adalah sebagai berikut.
a.       Mukjizat diberikan kepada para nabi dan rasul.
b.      Karamah dianugerahkan kepada wali.
c.       Ma’unah diberikan kepada orang mukmin.
d.      Irhas dianugerahkan kepada calon nabi atau rasul Allah SWT (sebelum diangkat menjadi nabi dan rasul)
Persamaan antara mukjizat, karomah, ma’unah dan irhas adalah sama-sama datangnya dari Allah SWT. Orang yang diberikan mukjizat, karamah, ma’unah, dan irhas pantas diteladani hidupnya, karena mukjizat, karamah, ma’unah, dan irhas hanya diberikan kepada hamba-hamba Allah SWT yang bertakwa dan beramal shaleh.
·        Hikmah Mukjizat
Hikmah adanya mukjizat adalah sebagai berikut.
a.         Melemahkan dan mengalahkan alasan,usaha,dan tipu daya orang-orang yang menentang dakwah rasul allah.
b.        Bagi yang telah percaya kepada kenabian maka mukjizat akan berfungsi untuk memperkuat iman serta menambah keyakinan akan kekuasaan Allah SWT.
c.         Membuktikan kebenaran rasul yang diutus Allah dan ajaran – ajarannya.
·        Hikmah Karamah, Ma’unah, dan Irhash
Hikmah adanya karamah, ma’unah, dan irhas adalah sebagai berikut.
a.         Mempertebal iman kepada Allah SWT.
b.        Mendekatkan diri kepada Allah.
c.         Tidak takut akan kesulitan, karena yakin Allah selalu memberikan pertolongan kepada hambanya yang beriman dan bertakwa.
Sumber:
Al-Azhar, Aqidah akhlaq Mts, Gresik: Putra Kembar Jaya.
Al-Qusyairi, Syarif, Kamus Akbar Arab-Indonesia, Surabaya: Giri Utama, 2009.
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Bandung: Diponegoro,2000.
Departement Pendidikan dan Kebudayaan,  Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.
Jazam, Abdullah; Ridho, Ahmad Rasyid; Hidayat, Masykur, Modul Pembelajaran Akidah Akhlak, Jakarta: Arafah Mitra Utama, 2008.
Katsir, Ibnu, Kisah Para Nabi, Jakarta: Pustaka Azzam, 2007.

VIDEO ADAB KEPADA ORANGTUA DAN GURU